Asosiasi Atletik Polandia Akui Pinjamkan Bendera Ke Zohri

1598
Foto Twitter @PZLANews

BENANKMERAH.CO – Lalu Muhammad Zohri, berhasil mencetak prestasi yang sangat membanggakan dan mengejutkan banyak pihak baik di Indonesia maupun dunia.

Dia meraih medali emas untuk nomor lari 100 meter pada Kejuaraan Dunia Atletik U-20 yang berlangsung di Finlandia, Rabu (11/7) lalu.

Namun, kabar gembira itu sempat diwarnai insiden yang kurang menyenangkan. Sang juara terpaksa menggunakan bendera Polandia saat selebrasi di depan kamera. Sebab, dia tidak mendapatkan bendera Indonesia sesaat setelah lomba usai.

Hal ini diungkap pihak Polski Związek Lekkiej Atletyki  (PZLA), Asosiasi Atletik Polandia.

Melalui akun Twitter resminya tertanggal 11 Juli 2018, PZLA menampilkan foto Mohammad Zohri menjelang selebrasi.

Atlet yang lahir di Lombok, NTB, itu tampak sedang menyelimuti punggungnya dengan bendera berwarna merah dan putih. 

Sementara, di belakangnya seorang pria dan seorang perempuan yang, melihat pada warna kulitnya, patut diduga bukan orang Indonesia.

Foto tersebut disertai keterangan dalam bahasa Polandia.

“Ya—bendera ini, yang kalian dapat lihat melalui gambar tersebut adalah bendera Putih-Merah milik Polandia. Tim kami meminjamkannya (kepada Mohammad Zohri –Red), tetapi para jurnalis menolak menerjemahkannya ke dalam (bahasa) Indonesia @#IAAFW.” tulis PZLA.

Sebelumnya, duta besar RI untuk Finlandia, Wiwiek Setyawati Firman dalam keterangan presnya telah menyampaikan klarifikasi terkait insiden tersebut.

Pihak KBRI Finlandia menanggapi pelbagai keberatan yang diungkapkan warganet tentang tayangan Mohammad Zohri yang mondar-mandir di depan tribun penonton untuk mencari bendera Indonesia.

Menurut Wiwiek, hanya wartawan televisi yang punya akses di garis finis ketika kejuaraan itu berlangsung. Dia lantas mencontohkan awak media Negeri Paman Sam yang dinilainya sigap meliput.

“Media Amerika Serikat sangat banyak dan mereka siap meliput di garis finis. Mereka juga membawa bendera mereka karena yakin atlet AS selalu menang pada lari 100 meter,” kata Wiwiek Setyawati Firman, Jumat (13/7).

Dia mengklaim, media asal Indonesia tidak ada dalam ajang kejuaraan tersebut. Adapun para pelatih Indonesia yang duduk di tribun penonton, lanjutnya, tidak diperbolehkan masuk ke lintasan lari.

“Hanya superman-lah yang bisa meloncati pagar masuk ke lintasan untuk memberikan bendera di garis finis dengan cepat dalam tempo yang sama dengan wartawan AS yang sedari awal memang sudah siap siaga di garis finis,” imbuhnya.

 

Editor: Heni Anggraini
Republika