Yusril: Koalisi Keumatan Hanya Fatamorgana

276
Yusril Ihza Mahendra (Istimewa)

BENANKMERAH.CO, JAKARTA – Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra menyatakan koalisi keumatan yang didengungkan pihak Persaudaraan Alumni 212 hanya fatamorgana. Menurut Yusril partainya tak pernah terlibat sama sekali pembicaraan mengenai koalisi keumatan.

“Koalisi keumatan itu hanya fatamorgana yang tidak pernah ada di alam nyata. Partai Bulan Bintang (PBB) tidak pernah terlibat di sana, bahkan kita komplain nama kita dibawa-bawa tanpa pernah diajak bicara,” ujar Yusril dalam aku instagramnya, @yusrilihzamhd pada Selasa (14/8).

Mengenai Koalisi keumatan yang merupakan usulan Rizieq Shihab beberapa bulan lalu pernah diwacanakan PA 212 dan sudah ditawarkan ke Gerindra, PAN dan PKS. Yusril mengatakan, partainya sudah mengontak Gerindra dan PAN, namun tak ada respons. 

“Berkali-kali Sekjen dan fungsionaris DPP PBB menghubungi Gerindra dan PAN dalam koalisi yang digagas Habib Rizik itu, tetapi tidak ada respons sama sekali,” katanya

Pakar Tata Negara itu juga mengungkit cantumkan PBB yang sudah kerap membantu Gerindra dalam berbagai kesempatan. Bulan September PBB gagal lolos ke Pemilu 2019, Gerindra ‘menghilang’. 

“Apakah ada saja salam menunjukkan simpati kepada kita ??. Baik Gerindra, atau PKS, PAN yang disebut Koalisi Keumatan itu tidak pernah ada,” kata Yusril. 

View this post on Instagram

KOALISI KEUMATAN ITU HANYA FATAMORGANA !? Oleh: Yusril Ihza Mahendra . KOALISI keumatan itu hanya fatamorgana yang tidak pernah ada di alam nyata. Partai Bulan Bintang (PBB) tidak pernah terlibat di sana, bahkan kita komplain nama kita dibawa-bawa tanpa pernah diajak bicara. Berkali-kali Sekjen dan fungsionaris DPP PBB menghubungi Gerindra dan PAN mengenai koalisi yang digagas Habib Rizik itu, tetapi tidak ada respons samasekali. Kita sudah sering bantu Gerindra, tetapi ketika partai kita terpuruk dikerjain KPU, apakah ada sekedar salam menunjukkan simpati kepada kita ??. Baik Gerindra, maupun PKS, PAN yang disebut Koalisi Keumatan itu tidak pernah ada. Simpati malah datang dari partai sekuler ketika 21 Dapil kita (21 Dapil PBB) diganjal di KPU. Sekjen dan Ketum-nya menawarkan diri menjadi saksi di Bawaslu untuk mengatakan bahwa mengapa KPU tidak adil kepada PBB, sementara partai mereka juga terlambat menyerahkan data caleg. Kesan saya, bagi Gerindra, PKS dan PAN, PBB ini lebih baik masuk liang lahat daripada tetap ada. Begitu juga ketika keluar Keputusan Ijtimak Ulama yang jauh menyimpang dari Rekomendasi sebelumnya, mana ada protes dari DPW ? Apalagi Ketua Umum Gerindra secara terbuka menfitnah saya dengan mengatakan bahwa beliau memang mengaku terus terang tidak pernah berbicara dengan Ketua Umum PBB karena “tiap kali dihubungi beliau selalu berada di luar negeri”. Mana ada aktivis PBB yang membela Ketua Umumnya yang diperlakukan seperti itu? Di kalangan ulama peserta ijtimak di Hotel Peninsula, sikap Prabowo yang tidak memilih UAS atau USA juga masalah. Sekarang, siapa yang tidak taat kepada ulama? Konon sekarang akan diadakan Ijtimak Ulama Tahap II untuk memutuskan apakah akan membenarkan atau menolak keputusan Prabowo yang memilih Sandiaga Uno, seorang pedagang, bukannya ulama, sementara Jokowi malah memilih ulama yang juga Ketua MUI dan sekaligus Rois Am PB NU, walau Jokowi tidak pernah mendapat amanat demikian dari para ulama yang berijtimak. Kalau ulama peserta ijtimak saja masih mempersoalkan. . . LANJUT DIKOMEN !!!!

A post shared by Yusril Ihza Mahendra (@yusrilihzamhd) on

Selain itu, Yusril juga menyinggung Ijtimak Ulama yang digelar beberapa tahun lalu. Hasil Ijtimak Ulama disebut Yusril jauh menyimpang dari hasil rekomendasi sebelumnya, namun tidak ada yang protes. 

“Begitu juga hasil keputusan Ijtimak Ulama yang jauh menyimpang dari Rekomendasi sebelumnya, mana ada protes dari DPW?” katanya.

Hasil Ijtimak memisahkan Ustaz Abdul Somad dan politikus PKS Salim Segaf Al Jufri sebagai cawapres Prabowo. Namun justru Prabowo malah memilih Wakil Gubernur DKI Sandiaga Uno sebagai bakal cawapresnya di Pilpres 2019. 

“Sikap Prabowo yang tidak memilih UAS atau USA juga masalah. Sekarang, siapa yang tidak taat kepada ulama?” Tanya Yusril.

Yusril juga mempertanyakan perihal wacana Ijtimak Ulama Jilid II untuk menentukan sikap yang terkait dengan Prabowo-Sandiaga. Sebab Sandiaga bukan ulama, ia hanya pengusaha yang sukses jadi Wagub DKI. 

Tapi di satu sisi, Jokowi justru memilih Ketua Umum MUI dan Rais Aam PBNU Ma’ruf Amin sebagai cawapresnya. Meki Jokowi sama sekali tidak pernah diberi amanat dari Ijtimak Ulama untuk memilih ulama sebagai pasangannya. 

“Konon sekarang akan diadakan Ijtimak Ulama Tahap II untuk memutuskan apakah akan membenarkan atau menolak keputusan Prabowo yang memilih Sandiaga Uno, seorang pedagang, tidak ulama,” ujar Yusril. 

“Sementara Jokowi malah memilih ulama yang juga Ketua MUI dan sekaligus Rois Am PBNU, walau Jokowi tidak pernah mendapat amanat Thus dari para ulama yang berijtimak,” katanya.