Persoalan Masyarakat Pulau Temoyong Batam Dengan PT. ITS Mulai Meruncing

Pertemuan antara pihak PT. ITS dengan Masyarakat Pulau Temoyong Batam yang dimediasi oleh Perpat Pesisir , Rabu (9/8) - Foto Marina/BENANKMERAH.CO

BENANKMERAH.CO, BATAM – Permasalahan masyarakat pulau Temoyong dengan PT. ITS kecamatan Bulang, Batam mulai meruncing.

Pasalnya masyarakat pulau menuntut ganti rugi atas lahan mereka yang dikuasai oleh pihak PT. ITS dan selama 3 tahun ini belum ada niatan pihak PT untuk menggantinya. Selain itu mereka mengaku resah dengan dampak yang ditimbulkan atas berdirinya PT. ITS seperti penimbunan mangrove yang ada hingga mencemari sungai tempat mereka mengais rezeki.

Ketua Persatuan Pemuda Pesisir (Perpat Pesisir) Syaiful Bahtiar bersama anggota akhirnya turun sebagai mediasi antara masyarakat dengan pihak PT. ITS  dengan cara mempertemukan kedua belah pihak untuk mencari solusi terbaik, pada Rabu (9/82017).

Baca Juga: Masyarakat Resah Atas Pengrusakan Hutan Mangrove di Pulau Temoyong Batam

Namun Syaiful menilai, hasil pertemuan itu masih belum jelas, karena pihak PT.ITS yang dihadiri oleh wakil pimpinan perusahaan Yulianto, masih ragu-ragu untuk mengabulkan tuntutan masyarakat pulau Temoyong.

Kepada benankmerah.co, Syaiful menuturkan, persoalan masyarakat pulau tersebut diantaranya, lahan mereka yang dikuasai oleh pihak PT. ITS belum diganti rugi, bahkan sudah ada aktifitas tambak udang dilahan tersebut.

“Dan aktifitas tambak udang itu, menimbun magrove yang sudah ada, sehingga air sungai tempat mereka cari makan sudah tercemar,” tutur Syaiful.

Persoalan lainya, lanjut Syaiful, PT. ITS sejak berdiri hingga saat ini, ada dana Community Development (CD) nya.

“Namun pengelolaannya tidak transparan, nah bersama Lurah dan Camat, mana yang mereka mau kasih, ya sesuka mereka mau kasih,” terang dia.

Syaiful berharap, agar terkait dengan dana CD ini disosialisasikan pada masyarakat pulau Bulang.

Adapun hasil pertemuan itu kata Syaiful, jawaban dari Pihak ITS masih abu-abu. Dari beberapa tuntutan masyarakat pulau tersebut, PT. ITS minta tuntutan itu satu persatu diselesaikan. Dalam hal ini dimulai dari menyelesaikan masalah lahan dulu sebanyak 52 surat tanah.

“Disini saya tekankan untuk menyelesaikan ganti rugi lahan, kami kasih waktu satu bulan, jika lewat dari masa itu, aktivitas mereka disekitar lahan akan kami pagar,” tegasnya.

“Dan terkait tentang pengrusakan mangrove dan pencemaran lingkungan, yang dilakukan PT. ITS, saya akan segera surati dinas lingkungan hidup,” katanya.


Marina |Editor: Rajo