Banjir Bandang Sentani Jayapura, Ada Kejahatan Lingkungan Yang Dibiarkan

145

JAKARTA –  Banjir melanda kawasan Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Sabtu (16/3), korban dilaporkan terus bertambah.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menyatakan, hingga hari ini Minggu (17/3) tercatat dampak banjir bandang Sentani sebanyak 42 orang meninggal dunia, dan 21 orang luka-luka.

“Diperkirakan korban masih akan bertambah karena evakuasi masih berlangsung,” kata Sutopo dalam keterangan pers hari Minggu.

Mengutip BBC Indonesia, Sutopo mengatakan sejak september 2018, Dewan Ketahanan Nasional (Wantanas) bersama BNPB telah memperingatkan tentang adanya banjir bandang.

Wilayah Sentani itu rawan banjir akibat kerusakan lingkungan dan pertambangan liar di lokasi situ.

Apalagi pada tahun 2007 lalu, di Sentani juga pernah diterjang banjir bandang.

Kejadian banjir bandang yang menerjang pada Sabtu silam, menurut Sutopo, menunjukkan hujan deras yang terjadi pada sore hari membendung air di sungai ada. Namun air kemudian meluap dan menerjang wilayah di sekitarnya.

“Ini karakter banjir besar yang terjadi di Indonesia kita bisa melihat bagaimana kayu gelondongan yang begitu besar dan batu besar menerjang desa-desa,” Kata sutopo

Mempertegas pernyataan Sutopo, Institute for Ecosoc Rights dalam sebuah pernyataan menyebutkan kawasan Sentani Jaya Pura rawan banjir akibat pengrusakan lingkungan dan pertambangan adalah sebuah kejahatan lingkungan.

“Sudah pernah banjir bandang di tahun 2007 dan kini berulang. Artinya, ada kejahatan lingkungan yang dibiarkan dan rakyat yang dipaksa menanggung akibatnya?,” kata mereka dalam sebuah posting ditwitter hari Minggu.

 

M.Manurung