Pengakuan Anggota Tim Buzzer Ahok: Bikin Puluhan Akun Palsu Untuk Perang

634
ILUSTRASI

BENANKMERAH.CO, JAKARTA – Salah satu buzzer blak-blakan bercerita tentang pekerjaannya. Sebut saja namanya Alex, tugas pertamanya membendung gelombang anti-Ahok pada Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta 2017 di media sosial. 

Alex mengaku peran yang ia lakoni selama ini membuat dia merasa muak “tapi kadang-kadang saya merasa jijik dengan diri saya sendiri,” kata Alex dari sebuah kafe di Jakarta Pusat, seperti dilansir The Guardian, Senin (23/7/2018).

Alex salah satu dari 20 orang buzzer atau pasukan rahasia dunia maya yang bertugas menyebar pesan dari akun media sosial palsu untuk mendukung Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, atau Ahok, untuk dipilih kembali.

“Mereka mengatakan kepada kami bahwa kamu harus memiliki lima akun Facebook, lima akun Twitter dan satu Instagram. Dan mereka mengatakan kepada kami untuk merahasiakannya. Mereka mengatakan itu adalah ‘waktu perang’ dan kami harus menjaga medan perang dan tidak memberi tahu siapa pun tentang tempat kami bekerja,” kata Alex.

Alex mengatakan timnya dipekerjakan untuk melawan banjir sentimen anti-Ahok, termasuk hashtag yang mengkritik kandidat oposisi, atau menertawakan sekutu Islam mereka.

Saat itu, Alex harus perang kata-kata di media sosial melawan buzzer milik Agus Harimurti Yudhoyono serta Anies Rasyid Baswedan.

Ia juga mengakui kalau perang tersebut menjurus ke arah SARA. Puncaknya, ketika terjadi demonstrasi besar-besaran massa yang mengatasnamakan Islam yang menyerukan Ahok untuk dipenjara karena dinilai menistakan Islam untuk kepentingan politik.

Alex mengaku dibayar sekitar US$280 (sekitar Rp4 juta) per bulan, dan diduga bekerja di sebuah rumah mewah di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Mereka masing-masing diberitahu untuk mengirim 60 hingga 120 berita sehari di akun Twitter palsu mereka, dan beberapa kali setiap hari di Facebook.

Alex mengatakan timnya yang terdiri dari 20 orang, masing-masing dengan 11 akun media sosial, akan menghasilkan hingga 2.400 posting di Twitter sehari.

Operasi ini dikatakan telah dikoordinasikan melalui grup WhatsApp bernama Pasukan Khusus, yang berarti “pasukan khusus” di Indonesia, yang diperkirakan Alex terdiri dari sekitar 80 anggota. Tim itu menyebar konten dan hashtag harian untuk dipromosikan.

“Mereka tidak ingin akun menjadi anonim sehingga mereka meminta kami untuk mengambil foto untuk profil, jadi kami mengambilnya dari Google, atau kadang-kadang kami menggunakan foto dari teman-teman kami, atau foto dari grup Facebook atau WhatsApp,” kata Alex. 

“Mereka juga mendorong kami untuk menggunakan akun wanita cantik untuk menarik perhatian pada materi; banyak akun yang seperti itu,” ujarnya.

 

Reporter: Heni Anggraini