Pasca Gempa Palu: Saya Lahir Disini dan Lebih Baik Mati Disini

3047
Dua orang warga menyelamatkan barang-barang yang bisa digunakan dari puing-puing rumah yang hancur di Palu (Gambar: AFP)

PALU – Beberapa warga yang selamat dari gempa dan tsunami di Palu terlihat membantu membangun rumah dan menyelamatkan barang-barang mereka yang bisa digunakan.

Dua saudara laki-laki  Nanang dan Eko Joko sibuk memaku papan kayu yang diselamatkan dibawah terik matahari  membakar kulit.

“Saya lahir di sini dan lebih baik mati di sini,” kata Eko, seorang pembuat mebel, berdiri di dekat tiga mesin jahit yang rusak yang pernah digunakan untuk melapisi sofa di bengkel terdekat.

“Di mana lagi kita bisa membangun? Siapa yang akan memberi kita uang untuk membeli tanah di tempat lain?,” ujar  Eko kepada Reuters.

Seorang ibu menyelamatkan barang-barang dari puing-puing rumah (Gambar: AFP)

Selain itu, Eko menolak tinggal di pusat evakuasi, karena menurutnya tempat tersebut tidak higienis.

“Kami akan mulai lagi di sini sendiri karena Tuhan tidak mengirim bencana dua kali,” kata Eko menyakini.

Meski begitu, Eko berencana membangun tanggul untuk menghambat atau memperlambat tsunami jika menerjang kembali.

Tetapi ia masih bingung tanggul seperti apa yang akan dibangunnya untuk bisa menahan kekuatan bencana yang dahsyat itu.

Seorang gadis dengan bonekanya di pusat evakuasi di Palu (Gambar: AFP)

“Kita bisa membangun tanggul. Tapi seberapa tinggi kita akan membangunnya? Bagaimana kita bisa menahan kekuatan alam?,” tukasnya.

Listrik dipulihkan dan toko-toko mulai dibuka kembali di kota di Palu hari ini.

Namun nasib ribuan orang di desa-desa terpencil tetap tidak diketahui hampir satu minggu setelah bencana melanda.

Palu, kota kecil dengan penduduk sebanyak 370.000 orang itu, telah menjadi fokus dari upaya bantuan setelah diguncang gempa bumi 7,4 SR dan disusul tsunami setinggi lebih 2 meter pada Jumat (28/9) lalu.

Seorang bocah tidur di luar kamp sementara di Palu (Gambar: AFP)

Bantuan internasional untuk korban selamat telah meningkat pesat, tetapi masyarakat di daerah yang lebih terpencil telah terputus oleh jalan rusak, tanah longsor dan komunikasi yang lumpuh, semakin putus asa untuk mendapatkan kebutuhan dasar karena bantuan baru saja mulai mengalir.

Sebelumnya hari ini, jumlah korban tewas resmi mencapai 1.424, tetapi diperkirakan akan meningkat karena sebagian besar korban tewas berasal dari Palu, sementara angka-angka untuk daerah terpencil belum sepenuhnya diketahui.

 

Editor: Heni Anggraini