MUI Nilai Meiliana Tidak Menistakan Agama

465

BENANKMERAH.CO – Wakil Sekretaris Fatwa MUI, Abdulrahman Dahlan menilai yang dilakukan Meiliana bukanlah penistaan agama. Menurutnya Meiliana hanya meminta suara azan dikecilkan dan bukan penistaan agama.

“Kalau sifatnya hanya kritik dan tidak ada unsur penistaan agama dalam arti melecehkan satu agama, dalam hal ini agama Islam. Tidak meremehkan nilai-nilai ajaran Islam saya kira saya sependapat itu bukan penistaan agama,” ujar Abdulrahman kepada KompasTV, Sabtu (25/8).

“Tetapi jika ada bukti yang menunjukkan bahwa protes yang dilakukan itu memenuhi unsur tindak penistaan agama, ya kita perlu mengujinya dipengadilan,” Abdulrahman menambahkan.

Meiliana divonis 18 bulan penjara karena dianggap menista agama akibat mengeluhkan volume suara azan yang dianggap terlalu keras.

Kasus perempuan asal Tanjung Balai, Sumatera Utara, itu sebenarnya telah terjadi pada 2016.

Saat itu, ia meminta kepada pengurus Masjid di sekitar tempat tinggalnya untuk mengecilkan volume pengeras suara. Ia mengaku terganggu dengan pengeras suara masjid.

Pernyataan Meiliana itu ternyata memicu kemarahan warga dan menyulut kerusuhan yang menyebabkan sekelompok orang membakar serta merusak vihara dan klenteng di Tanjung Balai.

MUI Sumatera Utara kemudian mengeluarkan pernyataan yang mengatakan Meiliana telah melakukan penistaan agama.

Kasus ini memasuki ranah hukum setelah jaksa menetapkan Meiliana sebagai tersangka penistaan agama pada 30 Mei 2018 dan mendakwanya dengan Pasal 156 dan 156a KUHP tentang penistaan agama.

Pada akhir persidangan, majelis hakim sependapat dengan dakwaan jaksa dan menjatuhi hukuman 1 tahun 6 bulan penjara kepada Meiliana sesuai tuntutan jaksa.

 

Editor: Heni Anggraini