Dituduh Campuri Urusan Lapas, Begini Tanggapan KPK

1351
Gedung KPK (Foto: Rizkia Sasi/BENANKMERAH.CO)

BENANKMERAH.CO, JAKARTA – Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Saut Situmorang menyebut pihahknya hanya memberi rekomendasi terkait detail Lembaga Pemasyaraktan (Lapas), bukan ingin ikut campur mengurusi hal yang di luar kewenangannya.

“KPK akan merekomendasikan banyak detail-detail di Lapas, soal detail-detail itu mau dijalankan atau malah KPK dianggap kambing congek itu soal lain,” ungkap Saut saat diwawancarai, Senin (30/7).

Hal tersebut menanggapi sindiran Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah yang menilai bahwa mentalitas KPK harus diperbaiki dengan tidak mengintervensi sesuatu hal yang bukan menjadi kewenangannya.

Menurut Fahri, lembaga antirasuah itu sudah terlalu jauh dalam mengintervensi kondisi yang ada di dalam lembaga pemasyarakatan khususnya di Sukamiskin.

Sebagai lembaga antirasuah, kata Fahri, KPK seharusnya menangani urusan yang menjadi kewenangannya saja, tanpa ikut campur urusan lain seperti fasilitas yang ada di Sukasmiskin.

Saut pun membantah adanya intervensi kepada Lapas, khususnya Lapas Sukamiskin. Menurut Saut, memberi rekomendasi terkait tata kelola Lapas dalam kaitan pencegahan korupsi juga sah saja bila dilakukan oleh KPK.

“KPK nggak mengurusi jadwal besuk, bilik-bilik tepas, kulkas sampai sound system dan lainnya yang ada di Lapas, itu bukan urusan KPK. Tapi, rekomendasi tata kelola dalam kaitan pencegahan bisa jadi harus diberikan,” tandasnya.

Kasus ini berawal ketika KPK melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Kepala Lembaga Permasyarakatan Sukamiskin Wahid Husein, stafnya Hendry Saputra, narapidana yang divonis 2 tahun 8 bulan dalam kasus korupsi kasus suap pejabat Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla) Fahmi Darmawansyah dan narapidana kasus pidana umum sekaligus tahanan pendamping Fahmi Darmawansyah, yaitu Andri Rahmat, pada 20-21 Juli 2018.

Dalam operasi senyap itu, KPK menyita dua mobil yaitu satu unit Mitsubishi Triton Exceed hitam dan satu unit Mishubishi Pajero Sport Dakkar hitam serta uang Rp 279,92 juta dan 1.410 dolar AS dari tangan Wahid, Hendry, Fahmi dan Andri. Mistubishi Triton tersebut diduga dipesan oleh Fahmi dan diberikan kepada Wahid.

Saat tim KPK masuk ke sel Fahmi, ia diketahui menikmati sejumlah fasilitas mewah seperti pendingin udara (AC), televisi, rak buku, lemari, wastafel, kamar mandi lengkap dengan toilet duduk dan mesin pemanas air, kulkas, dan kasur pegas. Wahid diduga menawarkan sel dengan berbagai fasilitas itu senilai Rp 200-500 juta.

Atas kejadian itu KPK pun menetapkan Wahid Husein dan Hendry Saputra tersangka penerima suap jual beli sel di Lapas Sukamiskin, sedangkan tersangka pemberi adalah Fahmi Darmawansyah dan Andri Rahmat.

 

Reporter: Rizkia Sasi