Sisa-Sisa Tubuh Bertebaran di Jalan Kabul

4531

BENANKMERAH.CO, KABUL – Sedikitnya 10 orang tewas dan 42 lainnya cedera dalam serangan di Kabul pada Kamis kemarin.

Rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan seorang korban mencoba melarikan diri tak lama sebelum sebuah van yang membawa bom meledak.

Dalam rekaman itu, van itu terlihat memotong sederet mobil yang menunggu untuk memasuki persimpangan sebelum menabrak penghalang jalan. Seorang lelaki yang berjalan di dekatnya mencoba melarikan diri tetapi pada saat itu terjadi ledakan.

Serangan yang diduga dilakukan Taliban terjadi di Shash Darak, daerah yang dikontrol khusus di dekat beberapa kompleks penting termasuk markas besar badan intelijen Afghanistan.

Kementerian pertahanan Rumania mengatakan salah satu anggotanya tewas dalam insiden itu. Ini adalah kedua kalinya seorang warga negara terbunuh minggu ini, setelah staf kedutaannya di Kabul terbunuh dalam serangan Taliban pada Senin.

Juru bicara kementerian kementerian Afghanistan Nasrat Rahimi mengatakan sedikitnya 10 warga sipil tewas sementara 42 lainnya terluka.

Namun, manajer umum Rumah Sakit Akbar Khan Wazir, Farid Ahmad Karimi, mengklaim bahwa para korban tidak hanya warga sipil tetapi juga personil keamanan.

Sementara itu, juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengatakan di Twitter bahwa Taliban bertanggung jawab atas insiden itu dan bahwa bom mobil juga menewaskan 12 ‘penyerang asing.’

“Ledakan itu begitu kuat sehingga saya jatuh ke kursi dan bagian dalam toko tiba-tiba gelap oleh asap dan abu dari tempat kejadian,” kata Massoud Zazai, pemilik studio foto di seberang jalan tempat ledakan kepada media lokal.

“Saya bergegas keluar dan melihat bahwa jalan dipenuhi puing-puing dan sisa-sisa. Saya melihat setidaknya lima orang, korban pertumpahan darah dan tidak bergerak. Ini mengerikan,” katanya.

Kabul terus diliputi kekerasan meskipun para pemberontak dan AS mencapai kesepakatan yang seharusnya membuat Pentagon menarik ribuan tentara dari Afghanistan dengan syarat tertentu.

Namun, banyak yang khawatir hal itu akan membawa Taliban kembali berkuasa di negara itu.

 

Editor: Nyta Cece