Senator Yang Salahkan Muslim Atas Teror Masjid Selandia Baru, Dipukul Remaja 17 Tahun Pakai Telur

3793

MELBOURNE РSenator sayap kanan Australia  yang menyalahkan Muslim atas serangan teror di masjid Christchurch mendapat sial karena sebutir telur dilempar kekepalanya.

Mengutip, media Australia Junkee, polisi Victoria menangkap seorang pria berusia 17 tahun dari pinggiran Hampton Melbourne setelah ia “diduga melemparkan sebutir telur ke seorang Senator Queensland Fraser Anning” di sebuah pidato di Melbourne, Sabtu (16/3/2019).

Anning berada di Melbourne untuk bertemu para pendukung Partai Nasional Konservatifnya yang baru.

Remaja itu telah dibebaskan sambil menunggu penyelidikan lebih lanjut.

Dalam video insiden yang diposting di situs berita News.com.au, tampak pemuda itu menghancurkan telur di kepala Anning ketika sedang merekam insiden itu diselulernya.

Sebagian besar telur pecah, dan menetes di kepala senator sehingga membasahi bajunya.

Sang senator berbalik, bersumpah dan membalas dengan memukul wajah pemuda itu lalu dia ditahan oleh seorang pria di dekatnya.

Orang yang ada disekitar, mungkin pendukung senator, menjegal remaja itu dan menjatuhkannya.

Beberapa situs, termasuk 10 News First Melbourne dan Junkee, mengatakan remaja itu sebagai pengunjuk rasa.

Senator Anning mendapat kecaman luas atas ucapannya setelah 49 orang tewas dalam serangan terhadap dua masjid Christchurch oleh teroris kelahiran Australia, Brenton Tarrant.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis hanya beberapa jam setelah serangan itu, Anning mengatakan biasanya (Muslim) adalah pelakunya.

“Penyebab pertumpahan darah sesungguhnya di jalan-jalan Selandia Baru hari ini adalah program imigrasi yang memungkinkan kaum fanatik Muslim untuk bermigrasi ke Selandia Baru,” kata senator dari Queensland Australia itu.

“mereka yang mengikuti agama yang kejam yang menyerukan untuk membunuh kita, tidak terlalu terkejut ketika seseorang merespons dengan cara yang sama,” katanya mengutip sebuah ayat dari Alkitab.

Politisi Australia mengecam pernyataannya. Perdana Menteri Scott Morrison mengatakan bahwa pernyataan itu “menjijikkan”.

“Pandangan itu tidak memiliki tempat di Australia, apalagi Parlemen Australia,” katanya dalam sebuah posting Facebook.