Para Menteri Malaysia Desak PM Mahathir Untuk Mengusir Zakir Naik

1119

BENANKMERAH.CO, KUALA LUMPUR – Kabinet Malaysia membahas tempat tinggal permanen ulama Islam India Zakir Naik pada hari Rabu, sementara tiga menteri menuntut pengusirannya karena diduga membuat pernyataan yang peka rasial di negara multi-etnis.

Naik, yang telah tinggal di Malaysia selama sekitar tiga tahun dan menghadapi tuduhan pencucian uang dan kebencian di India, mendapat kecaman atas komentarnya baru-baru ini bahwa umat Hindu di negara Asia Tenggara memiliki “hak 100 kali lebih banyak” daripada minoritas Muslim di India.

Ras dan agama adalah masalah sensitif di Malaysia, di mana Muslim membentuk sekitar 60 persen dari 32 juta penduduknya. Sisanya kebanyakan etnis Cina dan India, yang sebagian besar adalah Hindu.

Reuters melaporkan, para menteri Malaysia mengatakan komentar Naik itu telah mendorong perselisihan antara Muslim dan non-Muslim di Malaysia, sementara Naik menepis tudingan itu.

“Kami telah menyatakan posisi kami, yaitu bahwa tindakan harus diambil dan bahwa Zakir Naik seharusnya tidak lagi diizinkan untuk tetap di Malaysia,” kata Gobind Singh Deo, menteri komunikasi dan multimedia, Rabu (14/8/2019),

“Perdana menteri telah memperhatikan kekhawatiran kami. Kami menyerahkan kepadanya untuk mempertimbangkan posisi dan memutuskan sesegera mungkin apa yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut,” tambahnya.

M. Kulasegaran, menteri sumber daya manusia, dan Xavier Jayakumar, menteri air, tanah dan sumber daya alam, juga mengeluarkan pernyataan yang mendesak Perdana Menteri Mahathir Mohamad untuk mengusir Naik.

Naik, yang telah berulang kali menolak dakwaan terhadapnya di India, mengatakan para pencela mengutip komentarnya di luar konteks untuk memfitnahnya.

“Pujian saya kepada pemerintah Malaysia untuk perlakuan Islam dan adil terhadap minoritas Hindu sedang diputarbalikkan dan salah kutip untuk memenuhi keuntungan politik dan menciptakan keretakan komunal,” katanya dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu.

Kantor berita Malaysia Bernama mengutip pernyataan Perdana Menteri Mahathir mengatakan pada hari Selasa malam bahwa Naik tidak dapat dikirim kembali ke India karena kekhawatiran akan keselamatannya.

“Jika ada negara lain yang ingin memilikinya, mereka dipersilakan,” kata Mahathir.

India melarang Yayasan Penelitian Islam Naik pada akhir 2016, menuduhnya mendorong dan membantu para pengikutnya untuk “mempromosikan atau berusaha untuk mempromosikan perasaan permusuhan, kebencian atau niat buruk antara komunitas dan kelompok agama yang berbeda”.

 

Editor: Heni Anggraini