Aktivis HAM dan Mahasiswa Papua Diadili Atas Tuduhan Penghianatan

148

BENANKMERAH.CO, JAKARTA – Lima mahasiswa pro-kemerdekaan Papua dan seorang aktivis hak diadili pada Kamis (19/12) kemarin atas tuduhan pengkhianatan setelah mengibarkan bendera bintang kejora yang merupakan simbol separatis selama demontrasi di depan istana presiden.

Unjuk rasa yang terjadi di ibukota, Jakarta, pada Agustus lalu merupakan bagian dari minggu protes yang dipicu oleh video yang beredar luas di Internet menunjukkan polisi, didukung oleh tentara, menyebut siswa Papua “monyet” dan “anjing”.

Protes di beberapa kota di provinsi Papua Barat berubah menjadi kekerasan, menyebabkan lebih dari 30 orang tewas dan ratusan bangunan dan kendaraan terbakar.

Paulus Suryanta Ginting, seorang aktivis hak azasi manusia Indonesia dan juru bicara Front Rakyat Indonesia untuk Papua Barat, ditangkap tiga hari setelah berpartisipasi dalam dalam demonstrasi yang melibatkan sekitar 100 siswa Papua Barat di Jakarta pada 28 Agustus untuk memprotes rasisme dan menyerukan kemerdekaan Papua.

Lima pelajar Papua Barat, Isay Wenda, Charles Kossay, Ambrosius Mulait, Dano Anes Tabuni dan Arina Elopere, satu-satunya wanita, ditangkap dua hari setelah protes.

Jaksa mendakwa mereka dengan pengkhianatan, yang kemungkinan akan menjalani hukuman penjara seumur hidup. Sementara keenam terdakwa membantah melakukan kesalahan.

Dua orang mengenakan pakaian tradisional Papua dan tutup kepala selama persidangan. Mereka melukis kata “monyet” di tubuh mereka.

Mereka diadili secara terpisah di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.TerlihatĀ  aktivis HAM dan mahasiswa Papua memenuhi ruang sidang, beberapa mengenakan ikat kepala yang dihiasi bendera bintang kejora.

Dalam dakwaan, jaksa mengatakan para terdakwa berencana untuk memisahkan wilayah Papua dari Indonesia.

Jaksa penuntut mengatakan mereka mengorganisir demonstrasi pada 22 dan 28 Agustus di mana sekitar 100 demonstran berbaris di jalan menuju markas TNI dan istana presiden meneriakkan “Papua Merdeka”.