NU Berupaya Mengakhiri Penggunaan Kata ‘Kafir’

215

JAKARTA – Organisasi Islam Nahdlatul Ulama, (NU) telah mengeluarkan seruan untuk mengakhiri penggunaan “kafir” pada non-Muslim dalam masalah negara atau kewarganegaraan, sebuah langkah yang mungkin bertujuan untuk menenangkan agama dan ketegangan menjelang pemilihan presiden.

NU dengan sekitar 140 juta anggota, mengatakan pada Sidang Komisi Bahtsul Masail Maudluiyyah, Musyawarah Nasional Alim Ulama Nahdlatul Ulama baru-baru ini bahwa non-Muslim tidak boleh disebut sebagai “kafir” karena mereka memiliki kedudukan yang setara dalam urusan negara.

Ahmad Muntaha, Sekretaris Majelis Ulama NU Jawa Timur, mengatakan konferensi tersebut menyimpulkan bahwa non-Muslim harus disebut sebagai “muwathin”, atau warga negara dengan hak dan kewajiban yang sama dengan warga Muslim.

Ahmad mengatakan di situs web resmi NU pada Jumat (1/3) bahwa seorang Muslim tidak boleh menyebut non-Muslim sebagai “kafir” dalam konteks sosial apa pun.

“Konferensi ini juga menekankan bahwa sebagai negara, Indonesia tidak didirikan hanya oleh umat Islam,” kata Ahmad dengan menambahkan bukan berarti NU akan menghapus seluruh kata kafir di Al Quran atau hadis.

Rekomendasi NU datang berkaitan dengan pemilihan presiden pada 17 April mendatang .

Masalah agama telah memicu perpecahan antara pendukung capres Joko Widodo dan saingannya Prabowo Subianto.

Jokowi, telah menghadapi protes dari beberapa kelompok Islam yang menuduh dia memperlakukan beberapa ulama Islam secara tidak adil atau kriminalisasi Ulama.

Tudingan itu terus menggema, meski Jokowi telah memilih Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden, seorang ulama disegani dan ketua dewan penasihat Nahdlatul Ulama.

Jokowi pun juga telah menolak klaim terhadapnya itu sebagai tidak berdasar.