Muslim Akan Berdosa Jika Memanggil ‘Hai Kafir’ Pada Non-Muslim Yang Keberatan

437
ILUSTRASI (Foto: nu.or.id)

Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo, KH Afifuddin Muhajir menjelaskan bahwa bila ada umat muslim mengatakan  ‘Hai Kafir’ kepada non-muslim yang keberatan dengan sebutan itu maka orang itu akan berdosa dan bisa di hukum. 

Kiai Afif  juga merupakan salah seorang perumus Bahtsul Masail pada Munas Alim Ulama NU di Banjar Jawa Barat tentang Rekomendasi ‘Jangan Gunakan Istilah Kafir Bagi Non Muslim’.

Penjelasan Kiai Afif ini mengutip dari sebuah video yang diunggah oleh politikus PSI, Mohamad Guntur Romli ke laman Fanspage resminya.

Menurut Kiai Afif umat Islam harus membedakan apa yang diyakini dengan apa yang boleh dikatakan.

“Apa yang boleh bahkan yang wajib menjadi keyakinan belum tentu bisa dinyatakan. Misalnya suatu kelompok, yang oleh Al Quran dinyatakan sebagai kafir kita wajib meyakini mereka kafir”

“Akan tetapi mengatakan ‘kamu kafir’-‘dia kafir’- itu bisa menciptakan kegaduhan ditengah-tengah masyarakat plural yang sudah damai  yang sudah diciptakan dengan susuah payah oleh pendahulu kita”

“Oleh karena itu dicari kalimat yang lebih santun misalnya non-muslim. Ini tanpa harus mengubah Qul ya Ayyuhal-Kafiruun menjadi Qul ya Ayyuhal–Non-Muslim, itu tidak boleh,” jelas Kiai Afif

Kiai Afif mengutip pendapat ulama fiqih dari madzhab Hanafi dalam Kitab Al-Qunyah kalau ada orang Islam memanggil orang Yahudi dan orang Majusi dengan sebutan ‘Hai Kafir’ kemudian orang itu keberatan maka orang Islam yang memanggil ‘Hai Kafir’ itu berdosa dan bisa dihukum (ditakzir).

“Andai seseorang berkata kepada orang Yahudi atau Majusi, “Wahai Kafir!” maka ia akan terkena dosa apabila orang Yahudi/Majusi tadi keberatan. Bahkan harusnya ia dihukum karena ia telah melakukan dosa.” (Al-Qunyah, Kitab Fiqih Hanafi).

Klarifikasi KH Afifuddin Muhajir Wakil Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo yang merupakan salah seorang perumus Bahtsul Masail pada Munas Alim Ulama NU di Banjar Jawa Barat tentang Rekomendasi 'Jangan Gunakan Istilah Kafir Bagi Non Muslim'Menurut Kiai Afif kita harus membedakan apa yang diyakini dengan apa yg boleh dikatakan. Dengan mengutip pendapat ulama fiqih dari madzhab Hanafi dalam Kitab Al-Qunyah kalau ada orang Islam memanggil orang Yahudi dan orang Majusi dengan sebutan 'Hai Kafir' kemudian orang itu keberatan maka orang Islam yg memanggil 'Hai Kafir' itu berdosa dan bisa dihukum/ditakzir.

Posted by Mohamad Guntur Romli on Sunday, 3 March 2019

Seperti diketahui, Nahdlatul Ulama, (NU) telah mengeluarkan seruan untuk mengakhiri penggunaan “kafir” pada non-Muslim dalam masalah negara atau kewarganegaraan.

Seruan itu baru-baru ini diputuskan di dalam Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama melalui Sidang Komisi Bahtsul Masail Maudluiyyah, di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Banjar.

Konferensi tersebut menyimpulkan bahwa non-Muslim harus disebut sebagai “muwathin”, atau warga negara dengan hak dan kewajiban yang sama dengan warga Muslim.