Sayap Rapuh Si Kupu-Kupu Malam Nagoya Batam

Ilustrasi - Istimewa

BENANKMERAH.CO, BATAM –┬áDisudut gelap sebuah jalan di kawasan Nagoya, “Tarsih” (nama disamarkan) melambaikan tangannya ke pengendara motor dan mobil yang lewat.

Dengan suara merdu halus menggoda dan sedikit serak “mas.. sini” katanya pada ku yang kebetulan melintasi jalan itu.

Berjalan gemulai, gadis cantik bertubuh langsing itu menghampiri ku, sesekali tampak ia membasahi bibir mungilnya yang merah muda polesan dari lipstik impor bajakan.

Mata indah sayunya memandang ku penuh arti, sepertinya ada sesuatu yang sangat besar ia harapkan padaku.

Aroma tubuhnya yang semerbak membuat aliran darah yang ada dibilik kanan dan kiri jantung ku mengalir deras tak beraturan.

“Shourtime 300 ribu aja mas ditawar juga boleh, tapi kalau nginap beda lagi,” katanya sambil tersenyum yang sangat sulit ku artikan.

Wanita berusia 24 tahun ini sudah malang melintang didunia esek-esek sejak ia berusia belasan tahun, demikian pengakuan Tarsih saat aku menolak dengan halus tawarannya dan memutuskan mengajaknya makan malam serta ngobrol santai disebuah angkringan kaki lima.

“Saya terpaksa memilih pekerjaan ini untuk membantu ekonomi keluarga dikampung, terutama untuk biaya sekolah adik-adik saya,” kata gadis yang berasal dari pulau Jawa ini.

“Saya tidak punya pilihan mas, saya mungkin wanita bodoh yang hanya tamatan SMP dari keluarga yang kurang pendidikan,”

Sesekali Tarsih melihat Smartphonenya yang berbunyi setiap saat. “Maaf mas ..biasa..pelanggan,” katanya seperti merasa tak enak hati padaku.

Tak kusangka Tarsih juga termasuk salah satu wanita panggilan kelas ‘premium’ dipulau yang disebut sejuta ruko ini.

Itu kuketahui saat ia mau memperlihatkan pesan WhastApp dari pelanggannya yang ada diponsel pintarnya.

Ya, beberapa wajah diantara pelanggannya tak asing dimata ku, mereka termasuk orang-orang berduit dan cukup punya nama dikota ini.

Tapi kenapa tadi dia menawarkan harga murah padaku?

“Tidak ada pekerjaan lain yang menawarkan penghasilan menggiurkan seperti ini. Saya akui, pekerjaan ini memang menjanjikan mas,” lamunan ku buyar, Tarsih kembali melanjutkan ceritanya yang sempat terpotong.

“Meski hati ini sebetulnya menolak,” katanya.

Tarsih mengaku bahwa penghasilannya dari melayani pria hidung belang, bisa puluhan juta rupiah perbulan. Sebagian uang itu habis untuk merawat kecantikannya dan keperluan lain, sebagian buat keluarga dikampung dan sisanya ia tabung.

“Setiap malam saya harus melayani laki-laki diranjang dengan berbagai macam bentuk, tapi jujur saya tak merasakan apa-apa, hanya rasa jenuh mas,” katanya sambil memandang ke arah ku, tapi tatapan itu kosong dan sulit ditebak apa yang sedang ia pikirkan.

“Saya terkadang merasa iri dengan wanita-wanita yang hidup normal itu, dalam pandangan saya mereka itu beruntung dan sempurna, punya keluarga yang menjaganya, punya pacar atau suami yang tulus mencintainya dan punya teman-teman yang asik,” katanya melanjutkan.

“Sedangkan wanita seperti saya, dipandang sebagai orang buangan dan sampah,” katanya dengan nada suara mulai parau.

Kesedihan terpancar jelas dimatanya yang kini berkaca-kaca. Sebentar saja air mata yang menggantung dikelopak matanya bergulir menetes dipipinya.

Menyadari itu, Tarsih buru-buru menghapusnya. Kemudian ia mengambil nafas dalam-dalam dan dikeluarkannya pelan-pelan, dan dia tersenyum pada ku.

Aduhai, kenapa senyum itu membuat hatiku tercabik-cabik, tapi aku merasakan ketulusannya.

“Sebagai PSK, meski saya tak layak meminta dan menerima kasih sayang yang tulus dari orang-orang atau dari lelaki yang diam-diam saya cintai, tapi hati ini sangat merindukan itu,” ia melanjutkan.

“Saya berharap ada nantinya seorang lelaki penyelamat yang tulus menerima saya seperti ini, yang tubuhnya sudah dijamah tak terhitung pria,”

“Saya ingin pergi jauh dari kehidupan seperti ini, saya sudah menabung tiap bulan untuk persiapan itu, tapi itu belum cukup mas.. kemungkinan saya akan balik lagi, jika tidak ada lelaki yang membimbing saya yang bodoh dan lemah ini,” katanya

 

Alexandra