Persekusi Salah Sasaran Oleh Taksi Konvensional Marak Terjadi di Bandara Hang Nadim Batam

Bandara Hang Nadim Batam - Sumber foto istimewa

BENANKMERAH.CO, BATAM – Kericuhan antara taksi online dengan taksi konvensional di Batam seperti tak ada ujungnya.

Untuk sementara waktu, larangan beroperasinya taksi online telah dikeluarkan oleh pemerintah daerah beberapa waktu lalu.

Hal ini memicu reaksi berlebihan dari sekelompok orang, mereka bertindak anarkis dan semena-mena dengan melakukan sweeping yang menjurus ke persekusi.

Padahal permasalahan hanya antara taksi online dengan taksi konvensional, namun masyarakat yang jadi korbannya.

Salah satunya dialami seorang pengusaha dari Natuna bernama Irfan Agung mengaku sudah dua kali jadi korban persekusi salah sasaran oleh sekelompok supir taksi konvensional di bandara Internasional Hang Nadim Batam.

Kejadian persekusi pertama dialami Agung pada Rabu 7 Februari 2018, saat dia berkunjung ke Batam dari Natuna.

Kepada benankmerah.co Agung menceritakan, pada waktu keluar dari pintu kedatangan, Agung mengaku menggunakan Aplikasi taksi online.

Karena ia tahu dimanapun menggunakan aplikasi tidak ada masalah, dan juga tidak ada aturan atau larangan di bandara Hang Nadim.

“Saya coba menggunakan aplikasi ternyata semua supir yang terdaftar di Aplikasi tidak mau menjemput dan menolak masuk bandara, akibatnya aplikasi saya matikan” kata Agung di sebuah hotel di kawasan Nagoya, Batam, Sabtu (11/2/2018).

Kemudian Agung memutuskan menelpon keluarganya yang ada di Batam untuk menjemputnya ke Bandara.

Saat jemputan datang dan Agung segera ke mobil, namun tiba tiba datang beberapa orang berpakaian bebas mengerumuni mobil milik keluarganya itu.

Sekelompok orang itu mempertanyakan apakah mobil yang ditumpanginya menggunakan aplikasi. Tak hanya itu mereka juga menyita ponsel milik Agung.

“Saya tanya ini aturan mana, tapi semuanya marah, menghardik dengan nada tinggi dan keras, tidak ubahnya seperti preman,” ujar Agung.

“Dalam pikiran saya waktu itu, jika mobil ini di hancurin, siapa yang bertanggungjawab, karena petugas keamanan bandara seperti melakukan pembiaran persekusi ini,” Agung menambahkan.

Persekusi yang kedua disaksikan dan dialami Agung pada 9 Februari kemarin saat ia kembali berkunjung ke Batam dari Jakarta.

Namun kedatangan kedua ini telah diantisipasi oleh Agung dengan menghapus aplikasi taksi online di ponselnya.

Saat Agung ingin keluar dari kawasan bandara, ia menyaksikan seorang ibu-ibu di perkusi dan diperlakukan tidak manusiawi oleh sekelompok orang.

“Padahal dia seorang wanita, dipersekusi ditarik dari dalam mobil, padahal ibu itu sudah bilang, itu keluarganya yang menjemput, ibu itu menangis, tapi saya enggak bisa apa-apa, kenapa? saya tidak melihat ada aparat disitu,” tutur Agung sambil dia memperlihatkan kepada benankmerah.co, video kejadian tersebut yang sempat dia rekam melalui ponselnya.

Meski video yang direkamnya itu singkat, tapi bisa menjadi bukti perkusi saat ini memang ada dan marak terjadi di bandara Hang Nadim Batam.

Beberapa menit setelah kejadian itu, mobil jemputan Agung sampai di bandara dan kali ini yang yang menjemput adalah rekanan bisnisnya.

“Lucunya, ketika saya masuk ke mobil, saya juga dipersekusi kembali,” katanya.

Meski orangnya berbeda, perlakuan kasar yang sama seperti kejadian pertama kembali dialami agung.

Mobilnya digeledah sekelompok orang, ponselnya dirampas, mereka juga membentak dan berteriak dengan nada yang keras.

Agung mencoba protes dan mengancam akan melaporkan tindakan semena-mena mereka itu ke pihak berwajib.

Namun, mereka tidak mengindahkan ucapan Agung, mereka tetap bersikeras memeriksa ponsel milik Agung. Tapi tidak menemukan aplikasi yang mereka cari.

Tak hanya perlakuan kasar saja yang dialaminya, setelah sampai digerbang parkir bandara, Agung baru menyadari bahwa karcis mobilnya hilang.

“Saya dikerjaian, karcis parkir ternyata mereka ambil dari dashboard mobil, akbatnya saya kena denda dari 3 ribu menjadi 25 ribu,”

“Bukan masalah angkanya, tetapi membuktikan persekusi ini merugikan konsumen bandara, coba bayangkan ribuan orang yang datang di bandara mengalami ini, berapa lama negara membiarkan hal seperti ini,” sesal Agung.

Sampai dirumah, Agung tertunduk lemah ketika melihat mobilnya baret (tergores) dikanan dan kiri yang pada awal tidak ada.

“Pertanyaannya, saya mau menyalahkan siapa, apakah saya salahkan orang persekusi, apa salahkan pengelola bandara, pihak keamanan, kepada siapa saya harus mengadu,”

“Intinya, saya menyayangkan otoritas pengelola bandara dan kepala daerah Kepri yang bertanggungjawab membuat ricuh kondisi ini, sampai kapan akan dibiarkan,” kata Agung menutup wawancara.

Alexandra