Menguak Misteri Makam Keramat Bukit Sekupang (2)

8084
Lukisan Syekh Abdullah Karim Penunggu Makam Keramat Bukit Sekupang Batam, oleh Paranormal Soleh Pati - (BENANKKMERAH FOTO/Irawan)

BENANKMERAH.CO, BATAM – Keberadaan Makam Keramat di bukit Sekupang Batam ini masih menjadi tanda tanya dan misteri yang belum terungkap. Menurut informasi yang kami dapat dari berbagai sumber, mengatakan kemungkinan kuburan ini adalah situs purbakala dan ada  yang mengklaim salah satu makam para wali. Tak hanya itu ada yang mengatakan bahwa makam keramat tersebut tidak ada jasadnya alias kosong atau palsu.

Namun, beda lagi dengan informasi dari juru kunci makam keramat, Pak Sugeng, ia mengatakan dimakam keramat ini tempat dikebumikannya raja Melayu yang pertama bernama Syekh Abdullah Karim. Yang bertapa dibukit Sekupang setelah turun tahta bersama dengan dua putranya dan para pengikutnya.

Baca: Menguak Misteri Makam Keramat Bukit Sekupang Batam (1)

Makam Syekh Abdullah Karim terletak diatas bukit sekupang didalam bangunan mirip mesjid Demak, Jawa Timur, berbentuk segi lima dengan satu tiang ditengahnya, disanalah terdapat 3 makam berjejer seperti syaf. Yang mana dua makam lainnya dipercaya adalah makam dua putra sang raja yang bernama Syekh Daud dan Syekh Ismail.

Menurut Pak Sugeng, dirinya kurang tahu pasti, kapan bangunan berbentuk segi delapan itu dibangun, kemungkinan kata dia sekitar tahun 1991-1992. Dibangun oleh pengusaha Batam keturunan Tiongha. Dulunya disini juga ada Vihara, namun kurang populer disebabkan adanya makam keramat ini, terbukti disana ada bekas tempat dupa.

Dari pantauan tim misteri benankmerah.co, tampak disalah satu tiang makam dua putra raja, Syekh Daud dan Syekh Ismail ada tulisan ” Medan Wakaf tahun 1973 “. Siapakah yang menulis ini? Pak Sugeng hanya bisa gelengkan kepala.

“Pertama kali saya kesini bangunan ini ada 12 tiang dari kayu yang sudah lapuk dan hampir mau roboh. Dengan modal sendiri, saya secara perlahan mulai mengganti tiang dengan beton”, tutur pak Sugeng.

Dari penuturan pak Sugeng, Makam keramat ini dikenal sangat angker dan tempat favorit mahkluk halus bercengkrama.

Dan paling sering menampakan menampakan diri yakni dengan wujud Ular Naga Merah, menurut pak Sugeng makhluk itu sebenarnya adalah Kyai Kulang Geni.

Bahkan tidak hanya di bukit Sekupang, di taman kolam ikan yang berada disebelahnya, konon ada makhluk halus dengan wujud naga berkepala buaya.

“Waktu pertama kali saya datang kesini, jam 11 siang saya sedang mandi sambil nyuci baju di danau (kolam), tiba-tiba ada gelembung-gelembung, saya pikir ada apa ini, tahu-tahunya ada naga sepanjang danau berbentuk setengah naga setengah buaya”, tuturnya.

“Saat itu saya hanya bisa bilang, saya disini tidak mengganggu cuma mandi dan nyuci”, kenang pak Sugeng.

Walaupun keberadaan makam keramat ini terkesan angker, tetapi banyak juga dikunjungi masyarakat umum bahkan hingga pejabat. Diantaranya ada yang berziarah dengan maksud tertentu seperti minta barokah, minta pekerjaan, bahkan sampai ada yang minta nomor togel dan berburu harta karun.

Sementara itu istri pak Sugeng yang akrab dipanggil Bu Eno menceritakan, terkadang ada orang datang untuk meminta kesembuhan penyakit (berobat).

Terbukti, saat benankmerah.co tengah asik mengobrol dengan pasangan suami istri juru kunci makam ini, tampak  kehadiran suami istri yang diketahui dari Tanjung Uncang, melihat dari maksud dan tujuan mereka, sepertinya meminta barokah atau kesembuhan penyakit. Dan terlihat membawa 3 botol air mineral.

“Bapak bisa begitu saja (mengobati penyakit), tidak tahu orang- orang dapat kabarnya dari mana. Disini kan kami tidak kerja, mau makan pakai apa, kadang beliau (Syekh Abdullah Karim) pernah mengatakan, kamu bantu siapa saja yang membutuhkan, InsyaAllah saya akan bantu”, ujar bu Eno.

“Dulu kan pernah disuruh potong kambing antar ke mesjid, baru tiga kali. Kita kan memang orang susah, beliau datang, sudah cukup cu kata beliau, Nanti kalau cucu sudah mampu dilanjutkan kembali. Yang penting kopi, bunga dan pisang kuning sudah cukup , jadi itu semacam sesajen”, sambungnya

Syekh Abdullah Karim dipercayai adalah seorang raja melayu yang pertama, tapi tidak disebutkan atau diketahui raja melayu dari mana.

“Karena beliau turun tahta, hijrah lah kesini dan dilanjutkan oleh cicitnya. Raja Hamidah itu kan masih cicit beliau”, terang bu Eno.

Dari keterangan suami istri juru kunci makam keramat tersebut, dulu pernah rencananya Tukul ingin kesini syuting acara Mister Tukul Jalan-Jalan ( MTJJ) untuk mengungkap mitos makam keramat, namun rencana tim MTJJ itu selalu gagal.

Pernah sudah dua kali persiapan, malahan kru- krunya sudah mempersiapkan namun dibatalkan. Waktu itu syutingnya dialihkan ke Barelang di Camp Vietnam.

“Padahal saya sudah memberitahukan kepada teman, bahwa akan ada syuting Tukul (MTJJ) disini”, kata bu Eno dengan wajah kecewa.

Tapi harapan itu sepertinya terwujud, minggu malam pada 16 April 2017 lalu, Tukul akhirnya syuting MTJJ di makam keramat bukit Sekupang.

Paranormal kondang Soleh Pati, yang juga bisa seni melukis dalam acara tersebut, dengan mata tertutup melukis sosok yang ada di makam keramat.

Soleh melukis sosok Syekh Abdullah karim memakai jubah putih berselendang warna hijau dan dikelilingi (dijaga) 5 harimau besar.

Melihat sosok dari lukisan tersebut, sama persis seperti penuturan pak Sugeng saat menceritakan sosok sang raja, ketika menampakkan wujudnya pertama kali pada pak Sugeng untuk memberitahukan keberadaan makam keramat.

Baca : Menguak Misteri Makam Keramat Bukit Sekupang Batam (1)

Menurut Soleh Pati dari cerita pak Sugeng, banyak orang menyalahgunakan makam keramat ini, bukannya mengirim do’a tetapi malah meminta nomor togel, ada yang mencari harta karun bahkan menarik benda pusaka.

Namun tujuan salah banyak orang berziarah kemakam ini kata pak Sugeng tidak bisa dia kontrol, karena belum adanya aturan yang ketat, jadi tujuan para ziarah (yang melenceng) resikonya ditanggung oleh para perziarah itu sendiri.

Juru kunci makam keramat ini, juga memperlihatkan foto pada saat syuting MTJJ bersama Tukul dan juga lukisan Syekh Abdullah Karim yang dilukis oleh Soleh Patih.

(bersambung)

Reporter : Irawan