Bawaslu Kepri Dinilai Tidak Transparan Terhadap Penseleksian Peserta

Rini Elfina salah satu calon peserta Bawaslu Kepri saat memberi keterangan kepada wartawan di Batam centre, Selasa (15/8) - Foto Chandra/BENANKMERAH.CO

BENANKMERAH.CO, BATAM – Pansus Pemilu (Bawaslu) Provinsi Kepulauan Riau diduga tidak transparan dalam seleksi komposisi tes peserta.

Hal itu diungkap salah satu calon peserta Rini Elfina, bahwa  bersama 6 orang peserta wanita lainya dia akan mempersiapkan surat gugatan ke Bawaslu Pusat atas ketidak transparansi dan keterbukaan Bawaslu Provinsi Kepri terhadap penseleksian peserta.

“Sebelumnya pihak Bawaslu berjanji mengumumkan hasil tes dari proses tes CAT, tes kesehatan, serta tes psikotes, dipapan pengumuman Politeknik namun hal ini tidak dilakukan,” ujar Rini kepada wartawan, di Batam Centre, Selasa (15/8/2017)

Rini menambahkan, bahwa Ia tentunya berharap nilai- nilai dari setiap peserta di sampaikan.

“Sampai saat ini hasil tersebut tidak tersampaikan, tentunya kami mempertanyakan hal ini,” katanya.

Sementara itu, Dedi Suhada, merupakan salah satu peserta yang tidak lolos dalam seleksi mengatakan awalnya berkat dukungan teman teman dirinya maju mendaftar sebagai peserta, sebagaimana mestinya segala persyaratan administrasi sudah dilengkapi dilaluinya, namun atas ketidaktransparansian dan ketidakprofesionalan seorang pihak pansel membuat dirinya gagal maju.

“Pada pukul 04:30 sore hari pihak pansel meminta saya untuk mengantarkan legalisir ijazah s1 dengan cap basah, sementara saat mendaftar ditanggal 30, pihak pansel meminta saya membawa ijazah yang asli,” tutur Dedi

Dedi melanjutkan, sedangkan saat pleno tanggal 3 pukul 16:00 Wib diminta membawa legalisir ijazah dengan cap basah, dan hal ini menurut Dedi, tidak sesuai dengan ketentuan awal yang disampaikan ke padanya.

“Saat itu sudah dilakukan permohonan agar sekiranya pihak pansel mau memberikan tenggang waktu, agar besok pagi berkas akan diajukan, mengingat saya bertempat tinggal di Batam, tidak mungkin dalam waktu yang singkat untuk kembali ke batam dan kembali lagi ke tanjung pinang, saat itu pleno pada pukul 07:09 wib saya dinyatakan gagal,” ujarnya.

Padahal kata Dedi, ada tenggang waktu saat mendaftar ditanggal 2 namun pihak pansel tidak menyampaikan kekurangan berkas tersebut.

“Kita melihat ketidak proposionalan dan ketidakterbukaan dari pihak pansel tersebut,” tandasnya.


Chandra |Editor: Rajo