Aburizal Bakrie: Golkar Tolak Premanisme Terhadap Gerakan # 2019GantiPresiden

698

BENANKMERAH.CO, JAKARTA – Ketua Dewan Pembina (Wanbin) Partai Golkar Aburizal Bakrie mengklaim partainya menolak tindakan represif terhadap Gerakan #2019GantiPresiden yang belakangan ini tengah ramai. 

Penolakan ini dilakukan meski Golkar telah memutuskan dukungan kepada Joko Widodo pada pilpres 2019.

“Kami menolak dengan keras cara-cara represif dan premanisme terhadap gerakan #2019GantiPresiden tersebut, oleh karena kebebasan menyatakan pendapat dijamin dan diatur oleh undang-undang,” kata Aburizal alias Ical dalam keterangan diakun Facebooknya, Senin (27/8).

Menurut Ical, pelarangan Neno Warisman untuk acara-acara deklarasi di Pekanbaru dan pengepungan terhadap Ahmad Dani di Surabaya yang dilakukan dengan cara represif, tidak sejalan dengan iklim demokrasi dan tidak menunjukkan netralitas aparat dalam mengayomi masyarakat. 

Ical menilai pembinaan terhadap tindakan hakim utama masyarakat dan tindakan represif aparat tersebut sama saja menusuk Jokowi dari belakang. Hal ini karena dianggap sama sekali tidak mencerminkan cara yang baik dan benar. 

“Meskipun pilihan yang berbeda akan tetapi kita harus saling menghargai dalam perbedaan itu dan kebebasan dalam menyatakan bahwa itu dapat dijamin,” kata Mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar ini.

Kendati demikian, mantan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat ini juga menyesalkan ucapan provokatif yang dilakukan oleh Ahmad Dani. 

“Kami juga menghimbau kepada aktivis # 2019GantiPresiden untuk tetap bergerak dalam koridor peraturan perundangan dengan cara-cara santun, bermartabat dan memuaskan terhadap hukum,” katanya. 

“Akan tetapi aparat juga inginnya memberikan pembelajaran demokrasi kepada masyarakat dengan tidak memihak, dan dapat memfasilitasi dan mengatur masing-masing pihak agar tidak terhindar dari konflik di lapangan,” lanjutnya. 

Ical yakin tahun 2019 nanti adalah pesta demokrasi yang dapat digunakan oleh seluruh masyarakat Indonesia dan tidak sampai cara-cara represif dan provokatif menodai ajang pesta demokrasi tersebut.

“Mari kita sama-sama saling menjaga aset bangsa terbesar kita yaitu demokrasi agar tidak rusak dan ternoda oleh tindakan provokatif dan represif.” katanya.

Komentar Anda