Media Asing Soroti Anak anak Minta Sumbangan Pasca Gempa di Sulteng

363
Rafad dan Syafad memegang karton kertas di sisi jalan (Foto Daily Miror)

PALU – Gempa dan tsunami yang terjadi di Palu dan Donggala menjadi sorotan dunia, beberapa media asing menyorot mengenai betapa tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah datang secara mengejutkan dan mengerikan. 

Selain itu mereka juga menyoroti situasi dan penanganan pasca gempa, ketika korban tewas meningkat menjadi 1.763 orang.

Salah satunya, Media Inggris Daily Miror, telah melihat ratusan anak-anak meminta sumbangan atau bantuan di daerah yang terkena gempa bumi sembilan hari setelah bencana.

Anak-anak, bernama Syafad, (6) dan Rafad (8) terlihat memegang kertas karton bertuliskan “memohon dukungan”, serta kardus diperuntukan pada mobil yang lewat untuk menaruh makanan dan barang-barang penting lainnya.

Syafad kecil, mengenakan T-shirt kuning, memegang karton bertuliskan “tolong kami” terlihat melambaikan karton bertuliskan itu pada pengendara di jalan raya utama, dekat dengan desa Loli Saluran yang hancur.

Rafad yang memegang keras karton merah muda bertuliskan “Sedikit bantuan dari kalian dapat membantu kami”, mengatakan rumahnya telah hancur dan tidak bisa pergi ke sekolah lagi.

“Rumah dan semua mainan saya rusak. Saya tidak bisa bermain di luar dan saya tidak bisa pergi ke sekolah. Saya tidak tahu kapan kami bisa kembali (sekolah). Orang-orang telah memberi kami makanan dan minuman,” ujarnya kepada Mirror.

Seorang gadis kecil memohon bantuan dengan ember kecil di sisi jalan (Foto: Daily Mirror)

Beberapa anak-anak hanya mengenakan piyama di sepanjang rute 46 mil, sebagian besar telah rata oleh gelombang tusnami setinggi hampir 3 meter menyapu pulau itu setelah gempa berkekuatan 7,5 SR pada 28 September lalu.

Sementara anak-anak lain terlihat begitu putus asa untuk mendapatkan bantuan, mempertaruhkan hidup mereka dengan berdiri di tengah jalan berusaha memperlambat para pengemudi di kedua sisi agar berhenti.

Bantuan memakan waktu lebih lama untuk mencapai beberapa daerah di sepanjang rute karena jalan raya memasuki tempat itu sempat terputus.

Diperkirakan 160.000 rumah telah hancur total, sementara 66.000 lainnya rusak parah. Dikhawatirkan sebanyak 5.000 orang masih hilang

Miror juga melaporkan ribuan orang yang selamat berlindung dalam kondisi kumuh di tenda-tenda dan dipenampungan resmi yang dirakit dari terpal dan puing-puing.

Komentar Anda