Jenderal Tito Ungkap Jalannya Operasi Penanganan Pembebasan Sandera di Rutan Mako Brimob

237
Kapolri Jenderal Tito Karnavian - Foto Capture Youtube

BENANKMERAH.CO, JAKARTA – Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengungkap bagaimana jalannya operasi penanganan pemberontakan dan penyanderaan oleh napi teroris (napiter) di Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua.

Hal ini disampaikannya di acara ILC di TV One, “Tragedi Mako Brimob & Surabaya: DUKA KITA, DUKA BANGSA” pada Selasa, 25 Mei 2018 lalu.

Tito mengatakan, kericuhan di rutan Mako Brimob terjadi dalam dua peristiwa (kasus).

Peristiwa pertama yakni penyerangan terhadap petugas yang mengakibatkan setidaknya lima anggota Polri dan 1 napi teroris meninggal dunia dalam insiden yang terjadi pada Selasa, 8 Mei 2018 lalu.

Peristiwa kedua yakni penyanderaan terhadap Brigadir Iwan Sarjana. 

Menurut Tito, polisi melihat dari dua kasus tersebut, cara penanganannya berbeda. Kasus yang pertama polisi mengupayakan mencegah jangan sampai terjadi penyerangan. Jika terjadi penyerangan diupayakan secepat mungkin oleh petugas yang ada saat itu untuk menghentikan penyerangan.

“Tapi ini tidak terjadi, mereka (petugas) hanya melakukan penembakan dan karena kalah jumlah meraka keluar. Dan akhirnya terjadi perampasan-perampasan senjata termasuk barang bukti berapa kasus sebelumnya,” ungkap Jenderal Tito.

Sementara itu, untuk kasus kedua yakni penyanderaan, Tito menjelaskan polisi melihat ada 4 hal (resiko) yang menjadi pertimbangan waktu itu.

Pertama ada sandera yang masih hidup yakni Brigadir Irwan Sarjana, kedua ada tahanan wanita bernama Dian Yulia Novi atau Novi bersama anaknya. (Novi adalah tahanan wanita yang divonis penjara 7,5 tahun oleh majelis hakim atas tindakannya merencanakan serangan bom bunuh diri ke istana negeri pada Minggu, 11 Desember 2016)

“Yang ketiga, dari berbagai sumber kita memahami para napiter itu terbelah. Ada sekitar 50 orang yang ingin perang karena telah menguasai senjata, 105 diantaranya tidak mau,” ujar Tito.

Sedangkan yang ke empat, lanjut Tito yakni ada senjata yang dikuasai para napiter.

“Dari 4 resiko itu, saya melihat ada dua opsi, diserbu langsung atau dilakukan langkah-langkah untuk menunda penyerbuan,” katanya.

Tito menjelaskan, kesuksesan dari teknik operasi pembebasan sandera bila sanderanya hidup, jika sandera mati meskipun penyandera juga mati maka operasi tersebut gagal.

Dalam operasi penyelamatan sandera waktu itu juga selalu mempertimbangkan resiko kedua, yakni ada wanita (Novi) dan bayinya.

Dan wanita ini kata Tito, sudah diteriakan berkali-kali tidak mau keluar, karena dari dulu memang ingin bunuh diri, bahkan ia juga tidak mau menyerahkan bayinya pada petugas.

“Bayangin jika terjadi penyerbuan, yang pertama kali meninggal adalah Brigradir Iwan Sarjana,” katanya.

“Tadi udah disampaikan oleh yang bersangkutan (Iwan Sarjana): ‘saya berterimakasih pada para komandan karena tidak melakukan opsi penyerbuan, saya selamat’ jam 12 malam dia dilepas,” Tito menambahkan.

Kemudian lanjut Tito, melihat hal (resiko) kedua yakni wanita dan bayinya juga tidak mau keluar, maka dilakukanlah plan B.

“Plan B ini, jika seandainya tidak mau keluar, maka kita akan melakukan penyerbuan dengan teknik tertentu, dengan korban minimal,” ujar sang Jenderal yang mengaku saat kejadian berada di Jordania memenuhi undangan Raja Abdullah Husein sebagai pembicara.

Waktu itu Tito terkendala untuk pulang ke Indonesia, sementara presiden Joko Widodo mendesak untuk segara menindak dengan tegas para napiter, “Tapi tekniknya seperti apa diserahkan (presiden) pada polri,” ungkap Tito.

Oleh sebab itu, dari Jordania, Tito memerintahkan anak buahnya untuk melakukan plan B, yakni penyerbuan dengan teknik tertentu, dan korbannya seminimal mungkin.

“Ternyata dengan opsi itu, mereka semua keluar dengan baik-baik, senjata semua ditinggalkan, sehingga ini semua selesai,” katanya.

 

Reporter: Heni Anggaraini

Komentar Anda