Pengantin Wanita di Hukum Gantung Karena Membunuh Suaminya Yang Memperkosanya

284
ILUSTRASI - Foto Istimewa

BENANKMERAH.CO – Seorang pengantin remaja telah dijatuhi hukuman mati karena membunuh suaminya yang memperkosanya.

Melansir Dayli Miror, Noura Hussein, (19), mengatakan ayahnya telah memaksanya menikahi pria yang juga sepupunya ketika dia berusia 16 tahun, tapi Noura menolaknya dan mencari perlindungan dengan seorang kerabat selama tiga tahun.

Noura kembali ke rumah keluarganya di pinggiran ibukota Sudan, Khartoum, pada April tahun ini setelah ayahnya mengatakan pernikahan itu dibatalkan.

Tapi dia telah ditipu, dan sampai dirumah, ayahnya telah mempersiapkan upacara pernikahannya yang sedang berlangsung.

Noura mengatakan bahwa dia menolak melakukan hubungan seks dengan suaminya setelah upacara pernikahan itu.

Namun pada hari keenam, suaminya memperkosanya dan dibantu oleh tiga orang saudaranya lelakinya agar Noura tidak kabur.

Keesokan harinya, suaminya berusaha memperkosanya lagi dan dia berjuang untuk menghentikannya, dia menikamnya dan membunuh suaminya.

Pengadilan Syariah, yang mengikuti hukum agama Islam, menemukan Noura bersalah atas pembunuhan terencana bulan lalu dan pada hari Kamis (10/5) kemarin, secara resmi menjatuhkan hukuman mati padanya yakni hukuman gantung.

Sementara, pengacara Noura hanya memiliki 15 hari untuk mengajukan banding.

“Di bawah hukum Syariah, keluarga suami dapat menuntut kompensasi uang atau kematian. Mereka memilih kematian dan sekarang hukuman mati telah dijatuhkan,” kata Badr Eldin Salah, seorang aktivis dari Gerakan Pemuda Afrika yang berada di pengadilan.

“Pengacara Noura mengatakan mereka berencana untuk mengajukan banding terhadap keputusan itu, tetapi kami juga memerlukan dukungan internasional yang kuat dari organisasi seperti Uni Afrika, PBB dan Uni Eropa untuk mendukungnya.” dia menambahkan.

Menurut PBB yang khusus dibidang perempuan, Sudan berada di peringkat 165 dari 188 negara pada Indeks Ketidaksetaraan Gender, yang mengukur bagaimana perempuan mendapatkan upah dibandingkan dengan laki-laki dalam hal akses terhadap kesehatan, pendidikan, partisipasi politik dan kesempatan kerja.

PBB mengatakan kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan dianggap lazim di negara tersebut.

Negara ini juga belum menandatangani Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan dan memiliki kebijakan yang lemah untuk melindungi mereka.

Perkawinan dan pernikahan dengan anak dibawah umur, misalnya, tidak dianggap sebagai kejahatan di negara Afrika itu.

Hukum Sudan memungkinkan untuk pernikahan seorang gadis setelah dia mencapai pubertas.

PBB juga mengatakan seorang gadis 10 tahun dapat menikah dengan wali mereka dengan izin dari hakim.

“Satu dari tiga wanita Sudan menikah sebelum usia 18 tahun,” kata PBB.

Kelompok-kelompok kampanye seperti Equality Now mengatakan mereka menulis kepada Presiden Sudan Omar al-Bashir untuk memohon grasi, dengan alasan bahwa putusan itu bertentangan dengan konstitusi Sudan.

“Noura adalah korban, bukan penjahat yang harus diperlakukan seperti itu. Di banyak negara, korban seperti Noura akan diberikan layanan untuk memastikan bahwa mereka mengatasi trauma pengalaman mereka,” kata Direktur Global Equality Now, Yasmeen Hassan.

“Kriminalisasi Noura karena membela diri dari serangan dan, khususnya hukuman mati, akan melanggar haknya di bawah Konstitusi Sudan dan hukum internasional.” pungkasnya.

 

Reporter: benankmerah
Editor: Heni Anggraini

Komentar Anda