Drone Poseidon Rusia Bertenaga Nuklir Bisa Menyebabkan Tsunami Besar

696
Drone bawah air adalah proyek baru di bawah pengawasan Vladimir Putin - Foto TASS via Dayli Miror

BENANKMERAH.CO – Sebuah drone bawah laut bertenaga nuklir yang mampu menghancurkan pangkalan angkatan laut musuh dan menyebabkan tsunami besar sedang dibangun di Rusia, menurut kantor berita negara tersebut.

Sebuah sumber mengatakan pada TASS, drone bernama Poseidon itu akan mampu membawa hulu ledak nuklir dengan kapasitas hingga dua megaton.

“Akan mungkin untuk memasang berbagai muatan nuklir pada ‘torpedo’ sistem laut serbaguna Poseidon, dengan hulu ledak termonuklir tunggal untuk memiliki kapasitas maksimum hingga 2 megaton dalam setara dengan TNT,” kata sumber itu dilansir Dayli Miror.

“Dengan senjata nuklirnya, drone bawah laut terutama dirancang untuk menghancurkan pangkalan angkatan laut dari musuh potensial,” sumber itu menambahkan.

Drone akan memiliki kecepatan 60-70 knot dan akan beroperasi pada kedalaman lebih dari 1 km.

Proyek pengembangan pesawat tak berawak Poseidon diresmikan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin dalam pidato State of the Nation di Majelis Federal pada 1 Maret 2018 lalu.

Putin mengatakan bahwa drone ini dapat dipersenjatai dengan amunisi konvensional dan nuklir juga akan mampu menghancurkan infrastruktur musuh, pasukan angkatan laut yang dikemudikan dan tujuan lainnya.

Presiden Rusia mengklaim Poseidon akan memiliki hampir tidak ada kerentanan dan mengatakan akan membawa peraturan nuklir besar-besaran.

“Tidak ada apa pun di dunia yang mampu menahan mereka,” ujar Putin.

Dikesempatan yang sama, Kepala Komandan Angkatan Laut Rusia Sergei Korolyov, mengatakan bahwa senjata baru itu akan memungkinkan armada untuk menyelesaikan berbagai misi di perairan yang bersebelahan dengan wilayah musuh.

Menurutnya, uji coba elemen dasar pesawat tak berawak, pembangkit listrik tenaga nuklir berukuran kecil, telah dilakukan.

Poseidon bersama dengan operator mereka membuat bagian yang disebut sistem serbaguna samudra.

Pesawat tak berawak itu mendapatkan namanya setelah mengikuti hasil voting terbuka di situs web Kementerian Pertahanan Rusia.

 

Reporter: Heni Anggraini

Komentar Anda