Polemik Susu Kental Manis yang Bukan Susu

416
Salah satu produk susu kental manis - Foto: Istimewa

BENANKMERAH.CO, JAKARTA – Keberagaman nutrisi yang dikandung oleh susu tidak mengherankan jika banyak masyarakat yang mengonsumsinya untuk menjaga daya tahan tubuh.

Susu adalah salah satu produk olahan protein hewani yang identik berasal dari sapi. Seiring perkembangannya, beberapa hewan lain yang menghasilkan susu dan menawarkan manfaat kesehatan seperti kambing, kedelai, unta dan lainnya.

Sebagai alternatif dalam pemenuhan protein susu untuk tubuh, tak sedikit masyarakat berburu susu kental manis (SKM). Selain karena harganya yang ekonomis, susu kental manis pun sangat mudah ditemukan lantaran banyak dijual di pasaran.

Alih-alih menjaga kesehatan, mengonsumsi susu kental manis yang dianggapnya sebagai “susu” justru bisa mengundang penyakit. Kok bisa?

Jadi baru-baru ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan surat edaran bernomor HK.06.5.51.511.05.18.2000 tahun 2018 tentang ‘Label dan Iklan pada Produk Susu Kental dan Analognya (Kategori Pangan 01.3) pada akhir Mei 2018 lalu.

Kepala BPOM Penny Lukito menyebut, susu kental manis itu mengandung kalori (gula) yang tinggi, hanya mengandung protein 6,5 persen dan lemak susu minimal 8 persen, bahkan yang lebih mengejutkan lagi susu kental manis dinyatakan tak mengandung padatan susu sama sekali.

Dengan kata lain, susu kental manis telah berhasil “menipu” masyarakat yang sering mengonsumsi atau bahkan sering menyajikannya untuk anak.

Kendati demikian, Penny menjelaskan terbitnya surat edaran itu tak berarti produk susu kental manis dilarang diproduksi atau dikonsumsi. Hanya saja, konsumen maupun produsen dianjurkan untuk lebih bijak menggunakan produk tersebut.

“Tidak dilarang, tapi kita harus bijak dalam mengonsumsinya,” ujar Penny.

Larangan Produsen SKM

Setidaknya ada empat hal yang harus diperhatikan oleh produsen, importir, distributor produk susu kental manis, dan analognya seperti yang dilansir dari laman BPOM RI, yaitu:

1. Dilarang menampilkan anak-anak berusia di bawah lima tahun dalam bentuk apa pun.

2. Dilarang menggunakan visualisasi bahwa produk Susu Kental dan Analognya (Kategori Pangan 01.3) disetarakan dengan produk susu lain sebagai penambah atau pelengkap zat gizi. Produk susu lain antara lain susu sapi atau susu yang dipasteurisasi/susu yang disterilisasi/susu formula atau susu pertumbuhan.

3. Dilarang menggunakan visualisasi gambar susu cair dan/atau susu dalam gelas serta disajikan dengan cara diseduh untuk dikonsumsi sebagai minuman.

4. Khusus untuk iklan, dilarang ditayangkan pada jam tayang acara anak-anak.

SKM Menyebabkan Obesitas

Sementara itu, dr Angga Prassetia tak menampik kebenaran kabar yang beredar tersebut. Ia pun menganjurkan agar masyarakat tak mengonsumsi susu kental manis secara rutin.

“Ya sama aja sih maksimal dua kali sebulan, karena susu kental manis berisiko kegemukan atau obesitas. Kan bukan murni susu, beda lho gemuk susu murni dengan kental manis,” ungkap dr. Angga saat dihubungi, Kamis (5/7).

Oleh karenanya, dr. Angga menganjurkan untuk mengonsumsi susu segar langsung dari pemerasan sapi. Sementara untuk bayi 0 hingga dua tahun dianjurkan untuk mengonsumsi ASI.

Karena, kata dia, kandungan gula yang tinggi pada susu kental manis menimbulkan banyak dampak negatif untuk bayi atau anak-anak, selain berdampak obesitas diabetes, asupan gula secara berlebihan akan merusak gigi pada anak-anak.

Perlu Perubahan Nama Produk

Dihubungi terpisah, Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta korporasi alias produsen susu kental manis untuk merubah nama produknya. Rita ingin, produsen tak menggunakan embel-embel susu pada produk susu kental manis.

“Dalam iklan, disampaikan produk itu tidak untuk anak. Lalu kata susu-nya dihilangkan saja, menjadi minuman kental manis atau konsentrat kental manis,” ujar Rita saat dihubungi, Kamis (5//7).

Terkait kabar ini, Rita mengaku pihaknya sudah mencium ‘kebohongan’ sejak lama berdasarkan beberapa laporan yang diterimanya. Bahkan menurut dia, pembohongan publik tidak hanya terjadi pada produk susu kental manis, tetapi juga pada produk permen dan minuman bergula lainnya.

“Sebenarnya banyak iklan yang kurang mendidik terkait pola makan dan produk, Apalagi mencantumkan foto atau gambar anak sebagai iklan. Itukan juga melanggar edukasi norma yang ada didalam kandungan produk itu sendiri,” paparnya.

Dampak jangka panjang dari kebohongan publik ini, kata Rita, selain bisa menyebabkan obesitas juga akan menyebabkan penyakit lain pada anak seperti buta, tuli, bahkan autis.

“Jadi dampak panjangnya harus dipikirkan, misalnya obesitas dan zat-zat makanan yang tidak perlu juga bisa menyebabkan hal-hal tidak diinginkan seperti buta, tuli, atau autis itu juga penyebabnya ada dari unsur makanan,” pungkasnya.

Kedepannya, lanjut Rita, pihaknya akan lebih mengontrol produk-produk dan iklan-iklan mana saja yang baik dan tidak baik untuk anak-anak.

 

Oleh: Rizkia Sasi

Komentar Anda